Cerita Kampung Muslim di Bali: Kisah Sosok Balok Sakti di Kecicang Islam & Tempat Pemenggalan Kepala
Warga Kecicang Islam, Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem mengelar shafaran di Makam Balok Sakti beberapa tahun lalu.
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Simak cerita awal mula kampung muslim di Bali.
Umat Islam di Bali tersebar di beberapa kampung muslim kuno yang menjadi cikal bakal penduduk muslim di Bali saat ini.
Pengertian Kampung Muslim kuno di sini bukan berarti penduduknya mayoritas Islam.
Tetapi minimal kampung yang pemukimnya saat awalnya dahulu ada yang dari komunitas muslim meskipun status kampungnya berbeda-beda pada saat sekarang.
Awal masuknya Islam di daerah Kabupaten Jembrana, Buleleng, Badung dan Klungkung cenderung diwarnai kedatangan orang dari Jawa, Bugis-Makassar dan Madura.
Namun berbeda di Kabupaten Karangasem, Bali yang lebih dominan dengan kedatangan orang suku Sasak Lombok meskipun ada dari suku Jawa dan Bugis.
Dalam bukunya Awal Mula Muslim Di Bali yang ditulis Drs. H. Bagenda Ali, MM menjelaskan, kedatangan Suku Sasak beragama Islam dari Lombok ke Karangasem tidak hanya pada saat Kerajaan Karangasem menguasai kerajaan Pejanggi Lombok Tengah di era Anglurah Ketut Karangaem (1691-1692).
Jauh sebelum itu, saat Lombok dikuasai Kerajaan Gelgel Klungkung dan menaklukkan kerajaan Selaparang tahun 1520, di era Dalem Waturenggong yang sudah memeluk Islam.
Pada saat itu banyak orang Sasak pindah dari Lombok ke Karangasem meskipun hanya dalam jumlah terbatas tidak berkomunitas seperti kedatangannya di era pemerintahan Anglurah Ketut Karangasem.
Bagenda Ali dalam bukunya yang dicetak pertama pada Januari 2019, pada Bab V Beberapa Kampung Muslim Kuno di Bali menjelaskan, kedatangan awal orang-orang Lombok Suku Sasak Islam di Karangasem karena hubungan antara Kerajaan Gelgel Klungkung dan Kerajaan Selaparang sebagai kerajaan vassal Gelgel Klungkung.
Termasuk Kerajaan Blambangan di Banyuwangi, Jawa Timur yang ditaklukkan oleh Gelgel tahun 1512.
“Itulah sebabnya orang-orang Lombok dan Jawa di Bali sudah banyak yang berdatangan di daerah Klungkung dan Karangasem di era itu,” tulis Bagenda Ali.
Kampung Dangin seme
Bukti kedatangan orang suku Sasak Lombok beragama Islam di Karangasem menyebabkan terbentuknya kampung-kampung muslim kuno di Karangasem.
Bahasa dan kesenian banyak berasal dari Lombok.
Antara lain, kesenian cak kepung, rebana, Wayang Sasak, Tembang Sasak seperti cerita Menak dan hikayat nabi, kesenian Rudat dari Lombok, meskipun kesenian ini pengaruh dari Arab.
Orang orang Sasak awalnya menempati tanah-tanah pelungguhan atau tanah hadiah dari puri.
Selanjutnya mereka membentuk dan memperluas kampung muslim di Kabupaten Karangasem, antara lain;
Kampung Dangin seme, nama kampung ini berasal dari bahasa Bali, Dangin artinya timur, sedangkan Seme artinya kuburan.
Lokasi ini dulunya memang kuburan tempat orang-orang yang dihukum mati oleh raja.
Setiap orang yang dihukum mati di lokasi ini kepalanya dipenggal.
Oleh karena itu tidak ada orang yang berani tinggal di lokasi karena dianggap angker.
Namun ada seseorang dari Lombok bernama Raden Nangglung Baye mau tinggal di situ, sehingga akhirnya menjadi perkampungan.
Kampung Kecicang dan Karang Tohpati, baik Kecicang ataupun Dangin Seme sama-sama perwujudan dari kampung kuno Islam suku sasak di Karangasem.
Pada awalnya kampung Kecicang Islam ini ditempati seseorang yang bernama Balok Sakti yang nama aslinya bernama Kiai Haji Abudrahman.
Ia seorang yang sakti yang didatangkan oleh raja Karangasem dari Lombok ke Karangasem.
Balok Sakti menikahi seorang mualaf dari Sibetan dan Karang Telu dan mempunyai 11 anak.
Dari 11 anak tersebut membentuk komunitas muslim di Karangasem.
Kampung Islam Sindu Sidemen dibentuk ketika Raja Karangasem mengalahkan Kerajaan Selaparang Lombok.
Raja Karangasem akhirnya membawa orang-orang sakti Selaparang untuk dijadikan beteng kerajaan Karangasem.
Sebagian mereka ditempatkan di wilayah Sindu BU Tegal.
Termasuk ada di Kecicang dan ujung yang bukti sejarahnya dapat dilihat dengan adanya makam makam kuno di daerah-daerah tersebut.
Kampung Saren Jawa adalah bukti awal kedatangan Islam di wilayah Kabupaten Karangasem tidak hanya berasal dari orang Lombok, namun orang Islam itu ada juga yang dari Jawa.
Kisah saren Jawa ini bermula dari seorang muslim utusan Raja Mataram bernama Raden Kiai Jalil.
Ketika berada di Karangasem kebetulan ada seekor sapi besar (wadak) mengamuk membuat kekacauan di mana-mana di wilayah Karangasem.
Konon Kiai Jalil inilah yang berhasil membunuh wadak itu di lokasi yang bernama Saren (tidur).
Atas jasanya itu wilayah saren akhirnya dihadiahkan kepada Kiai Jalil sebagai tanah pelungguhan.
Dia kemudian menetap dan mempunyai anak dan cucu di wilayah Saren itu.
Karena penghuninya berasal dari jawa, maka akhirnya dikenal sebagai Saren Jawa.
“Sekarang ini, wilayah itu menjadi kampung Muslim di samping Dangin Seme.
Di Saren Jawa ini terdapat masjid tertua yang oleh masyarakat sekitar disebut Sangtreng karena bentuknya konon menyerupai pure dengan Meru Puncak Pitu,” tulis Bagenda Ali.
